Rantai sanad interaktif saat ini tersedia untuk
Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud,
Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah,
dan Muwatha Malik.
Ibnu Hibban
Nomor database lokal: 315
Teks Hadits
صحيح ابن حبان 315: أَخْبَرَنَا بَكْرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سَعِيدٍ الْعَابِدُ الطَّاحِيُّ بِالْبَصْرَةِ، حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ. قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: شُكْرُ الطَّاعِمِ الَّذِي يَقُومُ بِإِزَاءِ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ: هُوَ أَنْ يَطْعَمَ الْمُسْلِمُ، ثُمَّ لاَ يَعْصِي بَارِيَهُ، يُقَوِّيهِ، وَيُتِمُّ شُكْرَهُ بِإتْيَانِ طَاعَاتِهِ بِجَوَارِحِهِ، لأَنَّ الصَّائِمَ قُرِنَ بِهِ الصَّبْرُ لِصَبْرِهِ عَنِ الْمَحْظُورَاتِ، وَكَذَلِكَ قُرِنَ بِالطَّاعِمِ الشُّكْرُ، فَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الشُّكْرُ الَّذِي يَقُومُ بِإِزَاءِ ذَلِكَ الصَّبْرِ يُقَارِبُهُ أَوْ يُشَاكِلُهُ، وَهُوَ تَرْكُ الْمَحْظُورَاتِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.
Terjemahan Indonesia
Shahih Ibnu Hibban 315: Bakar bin Ahmad bin Sa’id15-seorang ahli ibadah, keturunan Thahiyah di Bashrah, mengabarkan kepada kami, Nashr bin Ali menceritakan kepada kami, Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang makan (tidak berpuasa) yang bersyukur sejajar dengan orang puasa yang sabar.16 Abu Hatim berkata, “Syukurnya orang makan yang dapat menandingi pahalanya orang puasa yang sabar adalah orang yang makan kemudian tidak maksiat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (Dengan nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berupa makanan itu) ia dapat menjadi kuat dan dapat menyempurnakan rasa syukurnya dengan menjalani ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan anggota tubuhnya. Oleh karena orang yang berpuasa harus dibarengi dengan sabar terhadap perkara yang dilarang, demikian juga orang yang makan harus dibarengi dengan rasa syukur. Dengan demikian syukurnya orang yang makan, harus mendekati atau menyamai kesabaran orang yang puasa. Yaitu dengan jalan meninggalkan perkara-perkara yang telah dilarang oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan Rasul-Nya. [2:1]