Rantai sanad interaktif saat ini tersedia untuk
Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud,
Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah,
dan Muwatha Malik.
Ibnu Hibban
Nomor database lokal: 1371
Teks Hadits
صحيح ابن حبان 1371: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى أَبُو يَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ الْفَزَارِيَّ، يُحَدِّثُ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ أَمَرَ بِالْبُدْنِ فَنُحِرَتْ- وَالْحَلاَّقُ جَالِسٌ عِنْدَهُ- فَسَوَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَوْمَئِذٍ شَعْرَهُ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَبَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَقِّ جَانِبِهِ الأَيْمَنِ عَلَى شَعْرِهِ، ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ: احْلِقْ فَحَلَقَ، فَقَسَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرَهُ يَوْمَئِذٍ بَيْنَ مَنْ حَضَرَهُ مِنَ النَّاسِ- الشَّعَرَةَ وَالشَّعَرَتَيْنِ- ثُمَّ قَبَضَ بِيَدِهِ عَلَى جَانِبِ شِقِّهِ الأَيْسَرِ عَلَى شَعْرِهِ، ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ: احْلِقْ، فَحَلَقَ، فَدَعَا أَبَا طَلْحَةَ الأَنْصَارِيَّ، فَدَفَعَهُ إِلَيْهِ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: فِي قِسْمَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرَهُ بَيْنَ أَصْحَابِهِ أَبْيَنُ الْبَيَانِ بِأَنَّ شَعْرَ الإِنْسَانِ طَاهِرٌ، إِذِ الصَّحَابَةُ إِنَّمَا أَخَذُوا شَعْرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَتَبَرَّكُوا بِهِ، فَبَيْنَ شَادٍ فِي حُجْزَتِهِ، وَمُمْسِكٍ فِي تِكَّتِهِ، وَآخِذٍ فِي جَيْبِهِ، يُصَلُّونَ فِيهَا، وَيَسْعَوْنَ لِحَوَائِجِهِمْ وَهِيَ مَعَهُمْ، وَحَتَّى إِنَّ عَامَّةً مِنْهُمْ أَوْصَوْا أَنْ تُجْعَلَ تِلْكَ الشَّعَرَةُ فِي أَكْفَانِهِمْ وَلَوْ كَانَ نَجِسًا لَمْ يَقْسِمْ عَلَيْهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّيْءَ النَّجِسَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَتَبَرَّكُونَ بِهِ عَلَى حَسَبِ مَا وَصَفْنَا، فَلَمَّا صَحَّ ذَلِكَ مِنَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحَّ ذَلِكَ مِنْ أُمَّتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ شَيْءٌ طَاهِرٌ، وَمِنْ أُمَّتِهِ ذَلِكَ الشَّيْءُ بِعَيْنِهِ نَجِسًا.
Terjemahan Indonesia
Shahih Ibnu Hibban 1371: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Abdurrahman bin Sahm, ia berkata, Aku mendengar Abu Ishaq Al Fazari menceritakan sebuah hadits dari Hisyam bin Hasan dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah ﷺ melempar jumrah pada hari raya qurban. Kemudian beliau menyuruh menyembelih unta. Unta pun di sembelih -sementara tukang cukur duduk di samping beliau-. Pada saat itu, Rasulullah ﷺ merapihkan rambut dengan tangannya. Kemudian Rasulullah ﷺ menggenggam sisi bagian kanan dari rambutnya. Lalu beliau bersabda ke arah tukang cukur, “Cukurlah!”. Maka tukang cukur pun mencukurnya. Kemudian Rasulullah ﷺ membagi-bagikan rambutnya pada hari itu kepada manusia yang menyaksikan peristiwa itu -satu lembar atau dua lembar rambut-. Kemudian beliau menggenggam sisi bagian kiri dari rambutnya dengan tangannya. Setelah itu beliau memanggil Abu Thalhah Al Anshari. Beliau pun memberikan (rambut itu) kepadanya.” 253 [8:5] Abu Hatim berkata, “Perbuatan Nabi ﷺ yang membagi- bagikan rambut kesegenap sahabatnya merupakan penjelasan yang paling nyata bahwa rambut manusia itu suci. Karena para sahabat mengambil rambut Nabi ﷺ semata-mata karena ingin mendapat berkah. Maka, dari balik tali pengikat celana atau kain, dari balik penahan ikat pinggang, dan dari balik celah kantung pakaian, mereka shalat dengan membawa rambut beliau. Mereka mencari rejeki untuk kebutuhan mereka dengan membawa rambut beliau yang selalu menyertai mereka. Bahkan kebanyakan dari mereka berwasiat agar rambut beliau disisipkan di dalam kain kafan mereka. Seandainya rambut dikatakan najis, niscaya Nabi ﷺ tidak akan membagi- bagikan benda najis, sementara beliau tahu bahwa mereka mengambil berkah dari rambut beliau seperti yang telah kami gambarkan tadi. Ketika hukum itu shahih dari Nabi, maka shahih pula untuk umatnya. Karena mustahil dari nabi sesuatu itu suci, sementara untuk umatnya, sesuatu itu najis.” 254